Mewujudkan Swasembada Air, Kolaborasi dan Teknologi Jadi Kunci Ketahanan Air Indonesia

Jakarta – Upaya mewujudkan swasembada air dinilai membutuhkan kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan teknologi, serta pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Webinar “Mewujudkan Swasembada Air” yang digelar pada Senin, 14 September 2026.

Webinar tersebut menghadirkan Anggota Komisi I DPR RI Sabam Rajagukguk, Akademisi dan Dosen Universitas Al-Azhar Wildan Hakim, S.Sos., M.Si, serta Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Labuhan Batu Selatan Syahrial Efendi HSB, S.E., M.M.

Dalam pemaparannya, Sabam Rajagukguk menegaskan bahwa air merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Ketersediaan air tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menjadi penopang sektor pertanian, industri, dan pembangunan.

Menurut Sabam, persoalan ketersediaan air masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Indonesia. Karena itu, upaya membangun kemandirian air perlu menjadi perhatian bersama.

Ia menyebut pemerintah terus melakukan pembangunan sumber air dan penanganan wilayah yang mengalami kekeringan maupun persoalan irigasi. Upaya tersebut, menurutnya, perlu dibarengi dengan peningkatan akses masyarakat terhadap air minum yang aman.

Teknologi Berperan dalam Pengelolaan Air

Sabam juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan sumber daya air. Teknologi dapat digunakan untuk memantau ketersediaan dan kualitas air, memprediksi kebutuhan, mengawasi distribusi, mendeteksi kebocoran jaringan, hingga meningkatkan efisiensi penggunaan air.

Menurutnya, ketersediaan data yang akurat dan terintegrasi diperlukan agar pemerintah dapat mengambil kebijakan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

“Pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, serta dukungan teknologi dan inovasi harus berjalan bersama,” menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam pemaparannya.

Sabam menilai swasembada air tidak dapat dibebankan kepada satu kementerian atau lembaga. Diperlukan sinergi multipihak agar sumber daya air tidak hanya tersedia, tetapi juga dapat dikelola secara bijak, efisien, dan berkelanjutan.

Akses Air Aman Masih Menjadi Tantangan

Sementara itu, Wildan Hakim menjelaskan bahwa air merupakan salah satu komponen fundamental dalam menjaga keberlangsungan hidup manusia. Ketersediaan air juga memiliki hubungan erat dengan ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi.

Ia menjelaskan bahwa sebelum air dapat dialirkan melalui jaringan perpipaan kepada masyarakat, diperlukan infrastruktur pendukung seperti waduk, bendungan, sumur dalam, serta sumber air baku yang memadai.

Wildan juga menyoroti ancaman perubahan iklim, pemanasan global, dan anomali cuaca yang dapat memperbesar risiko kekeringan serta kerawanan air di berbagai wilayah.

Menurutnya, persoalan air juga dapat berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Ketika akses air bersih sulit, masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperoleh air yang aman dikonsumsi.

Karena itu, perluasan akses terhadap sistem penyediaan air minum dan jaringan perpipaan menjadi salah satu bagian penting dalam mewujudkan kemandirian air.

Empat Strategi Menuju Swasembada Air

Wildan menyampaikan sejumlah strategi yang dapat dikembangkan untuk menghadapi persoalan ketersediaan air.

Pertama, pemanenan air hujan sebagai sumber air alternatif. Kedua, modernisasi sistem irigasi, termasuk penggunaan teknologi irigasi tetes untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air di sektor pertanian.

Ketiga, pemanenan kabut atau fog harvesting, terutama di wilayah dataran tinggi dan pegunungan. Keempat, optimalisasi dan pemeliharaan infrastruktur air, termasuk memperbaiki jaringan perpipaan yang mengalami kebocoran.

Selain itu, ia mencontohkan pemanfaatan sumur bor yang dikombinasikan dengan sistem filtrasi berlapis. Teknologi pompa air tenaga surya juga dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap listrik konvensional di wilayah tertentu.

Wildan turut menyoroti teknologi bioflok yang dapat dikombinasikan dengan pengelolaan air dan ketahanan pangan. Sistem tersebut dinilai dapat digunakan untuk budidaya ikan dengan penggunaan air yang relatif efisien.

Menurutnya, pengelolaan sumber daya air membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan masyarakat. Edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting agar pengelolaan air tidak hanya bersifat top-down.

Labuhan Batu Selatan Dorong Optimalisasi Infrastruktur Air

Dari sisi pemerintah daerah, Syahrial Efendi HSB menyampaikan bahwa persoalan air di Kabupaten Labuhan Batu Selatan memiliki tantangan yang beragam.

Ia menyinggung pentingnya pengelolaan sumber daya air sebagaimana amanat Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945, yang menempatkan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Syahrial juga menjelaskan bahwa kebijakan swasembada air membutuhkan keterlibatan pemerintah pusat hingga pemerintah daerah. Menurutnya, pembangunan infrastruktur air perlu dilakukan secara terintegrasi dengan sistem penyediaan air baku dan jaringan irigasi.

Di Kabupaten Labuhan Batu Selatan, sejumlah program telah dilakukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air, antara lain melalui program penyediaan air minum berbasis masyarakat dan pembangunan sumur bor dengan dukungan pemerintah daerah.

Namun, ia menilai persoalan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur baru. Sarana dan prasarana air yang telah dibangun juga perlu dioptimalkan agar dapat berfungsi secara maksimal.

“Pemanfaatan sarana dan prasarana yang sudah terbangun juga perlu menjadi bagian dari kebijakan swasembada air,” menjadi salah satu perhatian yang disampaikan dalam webinar tersebut.

Potensi Daerah Perlu Dipetakan dan Didigitalisasi

Syahrial juga menyoroti potensi sumber daya air di Labuhan Batu Selatan yang memiliki banyak sungai dan anak sungai.

Menurutnya, keberadaan sungai seperti Barumun dan berbagai anak sungainya perlu dipetakan secara lebih baik. Digitalisasi data daerah aliran sungai (DAS) dinilai dapat membantu pemerintah memahami potensi sekaligus permasalahan sumber daya air di daerah.

Pemetaan tersebut juga penting untuk mendukung perencanaan pembangunan dan menjaga keberlanjutan sumber air.

Di sisi lain, Syahrial mengingatkan pentingnya menjaga kualitas DAS. Penggunaan sungai untuk aktivitas mandi, mencuci, hingga mengambil air untuk kebutuhan konsumsi dapat menimbulkan persoalan kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik.

Swasembada Air Membutuhkan Kesadaran Bersama

Webinar “Mewujudkan Swasembada Air” menegaskan bahwa persoalan air bukan hanya persoalan pembangunan infrastruktur, tetapi juga berkaitan dengan teknologi, perubahan iklim, kesehatan, ketahanan pangan, ekonomi, serta partisipasi masyarakat.

Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, akademisi, dunia usaha, komunitas, serta masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan sumber daya air dapat dikelola secara efektif dan berkelanjutan.

Penguatan data, digitalisasi sumber daya air, pengembangan teknologi pengolahan dan distribusi, serta efisiensi penggunaan air di tingkat masyarakat menjadi sejumlah langkah yang dapat mendukung terwujudnya kemandirian air Indonesia.

Share this post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *