Jakarta – Masyarakat Madura didorong untuk semakin cakap dalam memanfaatkan teknologi digital dengan tetap mengedepankan keamanan, kecerdasan, budaya, dan etika. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi Merajut Nusantara bertajuk “Mewujudkan Masyarakat Madura Cakap Digital: Aman, Cerdas, Berbudaya, dan Beretika di Ruang Digital” yang digelar pada Jumat, 25 September 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya R.H. Imron Amin, S.H., M.H., Anggota Komisi I DPR RI, Ir. Woro Indah Widiastuti, MT., ICT Regulatory dan USO Expert IICF, serta Dr. Arif Nugroho, B.Eng., M.Sc., Rektor Universitas Pertiwi.
Dalam pemaparannya, R.H. Imron Amin menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, ruang digital dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk menyampaikan pendapat maupun keluhan, tetapi juga untuk kegiatan ekonomi dan berbagai aktivitas produktif.
Ia juga mengingatkan pentingnya memahami etika ketika beraktivitas di media sosial. Kebebasan berekspresi di ruang digital, menurut materi yang disampaikan, perlu berjalan bersama kesadaran terhadap batasan, tanggung jawab, serta konteks keterbukaan publik dan demokrasi.
BAKTI Komdigi dan Upaya Mengurangi Kesenjangan Digital
Sementara itu, Ir. Woro Indah Widiastuti menjelaskan mengenai program Kewajiban Pelayanan Universal (KPU) atau Universal Service Obligation (USO) yang dijalankan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menyediakan layanan teknologi informasi dan komunikasi di wilayah 3T.
Ia memaparkan sejumlah program BAKTI, mulai dari pembangunan BTS, sistem komunikasi satelit multifungsi, ekosistem ICT, infrastruktur penyiaran digital, backbone Palapa Ring hingga akses internet.
Dalam paparannya disebutkan bahwa jaringan BAKTI Komdigi telah mencakup 31.864 titik akses internet publik, 6.747 desa yang terjangkau sinyal 4G melalui BTS USO, serta 131 kota/kabupaten yang terhubung jaringan Palapa Ring. Kapasitas throughput satelit SATRIA-1 yang dipaparkan mencapai 150 Gbps.
Menurut materi tersebut, akses internet untuk layanan publik paling banyak digunakan sektor pendidikan sebesar 68,16 persen, disusul pemerintahan 19,94 persen, pelayanan kesehatan 5,89 persen, serta sektor lainnya dan UMKM sebesar 5,01 persen.
Empat Pilar Masyarakat Madura Cakap Digital
Memasuki pembahasan mengenai masyarakat Madura cerdas digital, Woro menyoroti potensi budaya dan ekonomi Madura, mulai dari Batik Gentongan Tanjung Bumi, Karapan Sapi, Rokat Tase’, Warung Madura, Sate Madura hingga pesantren.
Menurut materi yang disampaikan, potensi tersebut membutuhkan pemanfaatan ruang digital sebagai etalase untuk memperluas pasar. Salah satu contoh yang disampaikan adalah pelaku usaha batik di Pamekasan yang disebut mampu memperoleh omzet Rp50 juta per bulan melalui TikTok.
Untuk membangun masyarakat yang cakap digital, diperkenalkan empat pilar utama, yaitu:
- Aman (Digital Safety) — melindungi data pribadi, menggunakan kata sandi yang kuat, mewaspadai phishing dan APK berbahaya, serta mengaktifkan autentikasi dua faktor.
- Cerdas (Digital Skills) — melakukan verifikasi informasi, mengecek fakta, serta membedakan fakta, opini dan iklan.
- Berbudaya (Digital Culture) — membawa nilai budaya Madura seperti Bherri’, Tengka, Andhap Ashor, dan Settong Dara ke ruang digital.
- Beretika (Digital Ethics) — menjaga jejak digital, menghindari SARA dan perundungan, menghargai privasi serta memahami aturan yang berlaku di ruang digital.
Woro juga mengingatkan masyarakat untuk tidak membagikan data sensitif seperti KTP, KK maupun kode OTP. Penggunaan kata sandi yang kuat dan verifikasi dua langkah juga ditekankan sebagai bagian dari perlindungan akun digital.
Budaya Madura sebagai Kekuatan di Ruang Digital
Dalam aspek budaya digital, masyarakat Madura didorong untuk tidak meninggalkan identitas budayanya ketika masuk ke ruang digital.
Nilai Tengka atau sopan santun, Andhap Ashor atau rendah hati, Settong Dara yang menekankan persatuan dan kolaborasi, serta Bherri’ yang menggambarkan kerja keras dapat menjadi nilai yang dibawa dalam interaksi digital.
Kolaborasi juga dinilai dapat memperkuat ekonomi lokal melalui berbagai kegiatan, seperti kolaborasi antarpelaku UMKM, pembuatan katalog bersama, serta berbagi pengetahuan digital.
Dalam hal etika, peserta diingatkan untuk mempertimbangkan dampak setiap unggahan karena jejak digital dapat bertahan lama. Peserta juga diajak menghindari SARA, bullying dan hoaks, sekaligus menghargai hak cipta serta privasi orang lain.
Digitalisasi UMKM Madura Buka Peluang Pasar Lebih Luas
Narasumber berikutnya, Dr. Arif Nugroho, menyoroti pentingnya keterampilan digital dalam menciptakan produktivitas dan peluang ekonomi. Ia memaparkan data Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 yang disebut mencapai 44,53 secara nasional, meningkat 1,19 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Ia juga memaparkan contoh produk lokal Indonesia yang telah menembus pasar global. Dalam materi disebutkan terdapat 339 desa yang berhasil mengekspor produk unggulannya dengan total nilai ekspor Rp916,09 miliar ke 59 negara.
Produk yang disebut antara lain gula aren, kopi, produk pertanian organik, rempah, ikan hias, rumput laut, arang, vanila, bulu mata, dan minyak kelapa. Menurutnya, potensi serupa juga dimiliki produk-produk unggulan Madura.
Arif menjelaskan sejumlah langkah digitalisasi yang dapat dilakukan UMKM Madura, mulai dari mengenali produk unggulan, menentukan target konsumen, masuk ke marketplace dan media sosial, membangun katalog digital hingga mengelola pesanan dan pelanggan.
Ia membedakan fungsi marketplace dan media sosial. Marketplace dapat digunakan sebagai sarana transaksi, sementara media sosial dapat dimanfaatkan untuk membangun perhatian dan kepercayaan konsumen.
QRIS dan Pencatatan Keuangan Jadi Bagian Digitalisasi UMKM
Digitalisasi juga mencakup sistem pembayaran dan pengelolaan keuangan. Arif menjelaskan bahwa QRIS dapat menjadi salah satu pintu masuk UMKM ke ekosistem ekonomi digital.
Dalam materi yang disampaikan, pada semester I 2025 tercatat 39,3 juta merchant QRIS dengan 93,16 persen di antaranya merupakan UMKM. Total transaksi disebut mencapai 6,05 miliar dengan nilai Rp579 triliun secara nasional.
Selain pembayaran digital, pelaku UMKM didorong melakukan pencatatan keuangan secara rutin. Setidaknya, pelaku usaha perlu mencatat penjualan, modal atau HPP, biaya operasional, utang atau piutang, serta saldo kas.
Dengan pencatatan tersebut, pelaku usaha dapat membedakan omzet, laba, dan uang kas sehingga keputusan bisnis dapat dibuat berdasarkan data.
AI Didorong Menjadi Asisten Produktivitas UMKM
Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI juga menjadi bagian dari pembahasan. AI dapat digunakan untuk membantu mencari ide konten, membuat draft caption, menerjemahkan, merangkum data pelanggan, membuat variasi promosi, hingga membantu analisis sederhana.
Namun, pemanfaatan AI tetap perlu disertai verifikasi informasi, perlindungan data pribadi dan kerahasiaan usaha. AI juga tidak diarahkan untuk digunakan dalam kecurangan, plagiarisme maupun pemalsuan informasi.
Dalam pengembangan ekonomi digital Madura, kolaborasi antara UMKM, kampus, pemerintah, komunitas, industri dan platform digital dinilai menjadi bagian penting. Masing-masing pihak memiliki peran dalam literasi, pendampingan, regulasi, akses pasar, teknologi, mentoring dan promosi.
Pada akhir pemaparan, peserta diberikan sejumlah langkah praktis yang dapat dimulai, seperti memilih satu produk unggulan, membuat profil bisnis profesional, mengunggah konten berkualitas, mengaktifkan pembayaran digital, mencatat transaksi, serta memanfaatkan AI untuk menghemat waktu.
Pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut menekankan bahwa digitalisasi bukan berarti mengubah identitas Madura menjadi seperti daerah lain. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi sarana untuk membuat produk, cerita, budaya dan talenta Madura dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.



