Jakarta – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membuat masyarakat perlu memiliki kecakapan sekaligus etika dalam menggunakan media sosial dan berbagai platform digital. Setiap unggahan, komentar, maupun informasi yang dibagikan dapat meninggalkan jejak dan menimbulkan dampak bagi diri sendiri maupun orang lain.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Sosialisasi Merajut Nusantara bertema “Etika Bermedia Digital” yang digelar pada Selasa, 15 September 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota Komisi I DPR RI Dr. Desy Ratnasari, M.Si., M.Psi., Psikolog, ICT Regulatory dan USO Expert IICF Ir. Woro Indah Widiastuti, MT, serta Asisten Profesor Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif Universitas Budi Luhur Jakarta Dr. Medya Apriliansyah, S.E., M.Si.
Ketiga narasumber membahas pentingnya membangun perilaku yang santun, kritis, aman, dan bertanggung jawab ketika beraktivitas di ruang digital.
Etika Dimulai dari Kebiasaan
Dalam pemaparannya, Desy Ratnasari menjelaskan bahwa etika tidak hanya berkaitan dengan aturan tertulis, tetapi juga dengan watak, kesusilaan, dan kebiasaan yang dibangun secara konsisten.
Menurutnya, perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari akan membentuk karakter dan citra dirinya. Hal tersebut juga berlaku ketika seseorang berinteraksi di dunia digital.
Desy menjelaskan bahwa etika dapat dibedakan menjadi etika umum dan etika khusus. Etika umum berkaitan dengan norma yang berlaku bagi seluruh masyarakat, sementara etika khusus dapat diterapkan dalam bidang tertentu, termasuk etika profesi maupun etika dalam menggunakan media digital.
Dalam konteks bermedia sosial, ia mengingatkan masyarakat agar memahami aturan yang berlaku, termasuk ketentuan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta aturan mengenai perlindungan data pribadi.
Pengguna media sosial, menurut Desy, perlu berhati-hati ketika menyebarkan informasi. Penyebaran berita bohong, fitnah, pencemaran nama baik, maupun konten yang merugikan orang lain dapat menimbulkan persoalan hukum maupun sosial.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga data pribadi ketika membuat dan menyebarkan konten. Informasi berupa wajah, data fisik, maupun informasi pribadi lainnya perlu diperlakukan secara hati-hati agar tidak merugikan pemilik data.
“Jangan menormalisasi bahwa kita seolah-olah tahu tentang etika, tetapi lupa untuk mempraktikkannya,” menjadi pesan penting Desy dalam paparannya.
Empat Pilar Literasi Digital
Sementara itu, Woro Indah Widiastuti menjelaskan bahwa perkembangan infrastruktur digital perlu diikuti dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi secara bijak.
Ia menjelaskan peran BAKTI dalam mendukung pemerataan akses teknologi informasi dan komunikasi, terutama melalui berbagai program pembangunan infrastruktur digital di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurut Woro, semakin luasnya akses masyarakat terhadap internet juga membuat tanggung jawab pengguna semakin besar. Satu unggahan dapat tersebar kepada banyak orang hanya dalam waktu singkat.
Karena itu, etika digital menjadi salah satu bentuk perlindungan diri ketika beraktivitas di internet.
Woro memperkenalkan empat pilar literasi digital yang dapat menjadi pedoman masyarakat, yakni cakap digital, aman digital, budaya digital, dan etika digital.
Keempatnya perlu berjalan bersama. Kemampuan menggunakan teknologi, menurutnya, harus diimbangi dengan kemampuan menjaga keamanan data, menghormati orang lain, serta bertanggung jawab atas aktivitas yang dilakukan di ruang digital.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar menerapkan prinsip cek sebelum share, menjaga data pribadi, dan menggunakan empati.
Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah menerapkan prinsip 3T, yakni menanyakan apakah informasi tersebut benar, perlu dibagikan, dan baik untuk disebarluaskan.
Waspadai Hoaks dan Jejak Digital
Woro juga menyoroti sejumlah tantangan di ruang digital, mulai dari disinformasi, kecerdasan artifisial, cyber bullying, ujaran kebencian, phishing, hingga kecanduan media sosial.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru membagikan informasi, terutama ketika sedang berada dalam kondisi emosional.
Ada lima langkah praktis yang disampaikan, yaitu pause, check, think, filter, dan action. Pengguna internet perlu berhenti sejenak sebelum bereaksi, memeriksa kebenaran informasi, mempertimbangkan dampaknya, menyaring informasi sebelum dibagikan, serta menggunakan media digital untuk menyebarkan pesan yang edukatif dan positif.
Menurut Woro, setiap aktivitas digital meninggalkan jejak yang dapat membentuk reputasi seseorang di masa depan.
Karena itu, pengguna media sosial perlu berhati-hati dalam membuat unggahan, termasuk tidak membagikan data pribadi secara berlebihan, menyaring akun yang diikuti, serta memeriksa informasi melalui sumber yang kredibel.
Ruang Digital Tetap Merupakan Ruang Sosial
Dari perspektif akademisi, Medya Apriliansyah menekankan bahwa ruang digital pada dasarnya merupakan ruang sosial. Di balik setiap akun dan konten terdapat manusia yang memiliki identitas, perasaan, hak, dan privasi.
Menurut Medya, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kedewasaan perilaku. Kemampuan seseorang menggunakan teknologi tidak cukup apabila tidak disertai tanggung jawab sosial.
Ia menjelaskan bahwa satu komentar atau unggahan dapat memengaruhi reputasi, hubungan sosial, pekerjaan, bisnis, hingga masa depan seseorang.
Karena itu, pengguna media sosial perlu memahami konteks sebelum membuat konten. Konten harus dibuat dengan mempertimbangkan siapa audiensnya, apa tujuan komunikasinya, serta apa dampak yang mungkin ditimbulkan.
Medya juga menekankan pentingnya menghormati hak orang lain, termasuk privasi, martabat, karya, dan perbedaan pendapat.
“Tidak semua hal yang pantas dibicarakan secara langsung menjadi pantas ketika ditulis di ruang digital,” menjadi salah satu gagasan yang disampaikan dalam pemaparannya.
Terapkan Prinsip Think Before You Post
Medya mengajak masyarakat membangun kebiasaan think before you post sebelum mengunggah maupun membagikan informasi.
Lima pertanyaan yang dapat digunakan adalah apakah informasi tersebut true atau benar, healthful atau bermanfaat, inspiring atau memberikan dampak positif, necessary atau memang perlu dibagikan, serta kind atau disampaikan dengan tetap menghargai orang lain.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar mampu membedakan kritik terhadap sebuah gagasan dengan serangan terhadap pribadi.
Perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghina, mempermalukan, atau merendahkan orang lain. Ketika emosi sedang tinggi, pengguna media sosial disarankan tidak langsung menulis komentar atau membagikan sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik.
Jangan Jadi Mata Rantai Penyebaran Hoaks
Persoalan hoaks juga menjadi perhatian dalam pemaparan Medya. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadi mata rantai penyebaran informasi yang belum terverifikasi.
Sebelum membagikan informasi, pengguna perlu memeriksa sumber, tanggal publikasi, konteks, bukti, serta membandingkannya dengan sumber lain. Jika memungkinkan, informasi perlu ditelusuri hingga sumber primernya.
Langkah tersebut penting agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi pengguna digital yang kritis.
Medya menambahkan bahwa jejak digital dapat terbentuk melalui aktivitas yang dilakukan secara aktif maupun pasif. Komentar, unggahan, ulasan, hingga aktivitas digital sebelumnya dapat menjadi bagian dari rekam jejak seseorang.
Reputasi digital pun dapat terbentuk dari apa yang ditampilkan seseorang di internet.
Teknologi Canggih Harus Diimbangi Etika
Sosialisasi “Etika Bermedia Digital” menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab penggunanya.
Masyarakat diharapkan tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu bersikap kritis terhadap informasi, menjaga keamanan data, menghormati orang lain, serta bertanggung jawab terhadap setiap konten yang dibuat dan dibagikan.
Penguatan literasi digital juga diharapkan dapat membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan di ruang digital, mulai dari hoaks, cyber bullying, ujaran kebencian, pelanggaran privasi, hingga penyalahgunaan teknologi.
Pada akhirnya, ruang digital yang sehat tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh karakter dan perilaku orang-orang yang menggunakannya.
Pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut adalah bahwa teknologi boleh semakin canggih, tetapi kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab tidak boleh tertinggal.



