Sosialisasi Merajut Nusantara mengajak generasi muda memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan kreativitas, mempromosikan potensi lokal, dan membangun usaha. Literasi digital, keamanan data, serta etika bermedia menjadi bekal penting agar karya di ruang digital membawa manfaat dan membangun kepercayaan.
Pemanfaatan teknologi digital membuka peluang besar bagi generasi muda untuk berkarya, mengembangkan usaha, dan memperkenalkan potensi daerah ke pasar yang lebih luas. Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan memilah informasi, menjaga keamanan data pribadi, serta menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.
Pesan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertajuk “Kreatif Berkarya, Cerdas Bermedia dan Bijak Berkonten” yang berlangsung pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi I DPR RI R.H. Imron Amin, S.H., M.H.; pakar regulasi teknologi informasi dan Universal Service Obligation (USO), Ir. Woro Indah Widiastuti, M.T.; serta pengusaha dan inovator teknologi sekaligus Founder MPStore, Abdul Muis Aad.
Melalui pemaparan para narasumber, peserta diajak melihat ruang digital bukan sekadar tempat mengonsumsi hiburan dan membagikan informasi, melainkan juga sarana untuk meningkatkan keterampilan, memperluas jaringan usaha, dan mengangkat potensi budaya lokal Madura.
Generasi Muda Perlu Memanfaatkan Teknologi secara Produktif
Dalam pembukaan kegiatan, R.H. Imron Amin menyoroti pentingnya memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk mendukung kreativitas serta inovasi masyarakat. Ia mengajak peserta menjadikan kegiatan sosialisasi sebagai kesempatan untuk belajar dari pengalaman para praktisi yang telah mengembangkan usaha melalui teknologi digital.
Ia juga mengingatkan kebiasaan sebagian pengguna internet yang langsung menyukai atau membagikan konten tanpa memahami isinya secara menyeluruh. Kebiasaan tersebut dapat mempercepat penyebaran informasi yang belum tentu benar.
Menurutnya, penggunaan media digital perlu dilakukan secara cermat agar teknologi tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mendukung kemajuan masyarakat dan kepentingan bangsa.
Pemanfaatan ruang digital yang bertanggung jawab menjadi semakin penting karena internet memungkinkan masyarakat menyampaikan gagasan, membangun usaha, serta memperkenalkan identitas daerah kepada khalayak yang lebih luas.
Empat Pilar Literasi Digital sebagai Bekal Bermedia
Ir. Woro Indah Widiastuti menjelaskan bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Internet memungkinkan masyarakat menjangkau pasar baru, mengikuti pembelajaran dari berbagai sumber, mengembangkan inovasi, serta berkolaborasi tanpa dibatasi jarak geografis.
Teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Internet of Things (IoT), komputasi awan, dan perdagangan elektronik juga dapat membantu meningkatkan produktivitas. Bagi masyarakat Madura, perkembangan ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk UMKM, budaya, dan keterampilan lokal kepada konsumen di berbagai wilayah, bahkan pasar internasional.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu menghadapi risiko kebocoran data, kejahatan siber, kesenjangan akses internet, penyebaran hoaks, serta tantangan regulasi yang mengikuti perkembangan teknologi.
Untuk itu, Woro memaparkan empat pilar literasi digital yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Digital Safety: menjaga keamanan di ruang digital
Keamanan digital berkaitan dengan perlindungan informasi pribadi dan akun yang digunakan untuk beraktivitas di internet. Masyarakat diimbau tidak sembarangan membagikan Nomor Induk Kependudukan (NIK), foto KTP, nomor kartu keluarga, kode OTP, PIN, maupun kata sandi.
Pengguna juga perlu membuat kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, dan berhati-hati terhadap tautan atau aplikasi yang dikirim melalui pesan pribadi. Modus berbahaya dapat disamarkan sebagai undangan pernikahan, surat tilang elektronik, pemberitahuan paket, maupun tawaran pinjaman.
Waspada terhadap aplikasi yang tidak jelas sumbernya menjadi langkah penting untuk mencegah pencurian data dan pembajakan akun.
2. Digital Skill: meningkatkan kecakapan digital
Kecakapan digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat, melainkan juga keterampilan menilai informasi dan menggunakan teknologi secara efektif.
Woro memperkenalkan prinsip pemeriksaan informasi melalui tiga langkah, yakni mengecek sumber, memahami konteks, dan memverifikasi fakta. Pengguna perlu mengetahui siapa penerbit informasi, kapan konten dibuat, serta apakah klaim yang disampaikan didukung bukti yang dapat dipercaya.
Sumber pemeriksaan fakta seperti CekFakta dan TurnBackHoax dapat dimanfaatkan untuk membantu memeriksa klaim yang beredar. Penelusuran gambar juga dapat dilakukan menggunakan perangkat seperti Google Lens.
Masyarakat diingatkan untuk membaca isi berita secara lengkap, bukan hanya mengandalkan judul, serta membedakan fakta, opini, dan iklan sebelum membagikan informasi.
3. Digital Culture: membawa identitas lokal ke internet
Menurut Woro, ruang digital dapat menjadi tempat untuk memperkenalkan nilai budaya dan karakter masyarakat Madura. Pengguna tidak perlu meninggalkan identitas lokal demi mengikuti tren media sosial.
Nilai kerja keras, kesantunan, kerendahan hati, dan persaudaraan dapat diterapkan dalam aktivitas daring. Interaksi yang sopan, dukungan terhadap usaha sesama, dan kebanggaan terhadap bahasa daerah menjadi bagian dari budaya digital yang positif.
Bahasa Madura dan kekayaan tradisi setempat juga dapat menjadi ciri khas konten. Dengan pengemasan yang menarik, identitas lokal berpotensi menjangkau audiens yang lebih luas.
4. Digital Ethics: menjaga etika dan tanggung jawab
Etika digital mengharuskan pengguna mempertimbangkan dampak dari setiap unggahan, komentar, dan pesan yang disampaikan. Woro mengingatkan pentingnya menghindari penghinaan berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), perundungan, ujaran kebencian, serta provokasi.
Jejak digital dapat memengaruhi reputasi seseorang dalam jangka panjang, termasuk ketika melamar pekerjaan atau membangun hubungan profesional. Karena itu, pengguna perlu berpikir sebelum mengunggah sesuatu dan menghormati hak orang lain.
Prinsip sederhananya adalah tidak menuliskan sesuatu di internet yang tidak pantas disampaikan secara langsung dengan penuh tanggung jawab.
Potensi Budaya Madura Bisa Menjadi Kekuatan Ekonomi Digital
Woro turut menyoroti berbagai kekayaan lokal Madura yang dapat dikembangkan melalui kreativitas dan teknologi. Menurut pemaparannya, budaya dan tradisi daerah bukan sekadar warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga memiliki potensi ekonomi jika dipromosikan secara tepat.
Salah satu contohnya adalah tradisi rokatase atau petik laut yang dapat diperkenalkan melalui video dokumentasi, cerita budaya, dan konten wisata. Nelayan juga dapat memanfaatkan perangkat digital untuk mempromosikan hasil tangkapan serta menjangkau calon pembeli.
Usaha warung Madura, kuliner seperti sate dan soto Madura, serta kisah para perantau yang merintis bisnis dari awal juga berpotensi menjadi materi konten yang inspiratif. Cerita mengenai proses membangun usaha dapat memperlihatkan etos kerja, ketekunan, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi.
Potensi lain terdapat pada batik gentongan Tanjung Bumi yang memiliki proses pembuatan khas, serta karapan sapi yang dapat diperkenalkan melalui dokumentasi, siaran langsung, dan promosi kegiatan budaya.
Melalui media sosial dan platform perdagangan elektronik, pelaku usaha dapat menampilkan proses produksi, menjelaskan keunikan produk, membangun identitas merek, dan menjangkau konsumen di luar daerah.
Woro menekankan bahwa pengembangan potensi lokal membutuhkan kecakapan digital agar kekayaan budaya tidak hanya dikenal di lingkungan sendiri, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Digitalisasi UMKM Membuka Peluang bagi Pelaku Usaha
Founder MPStore, Abdul Muis Aad, menegaskan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan bagian penting dari perekonomian Indonesia. Menurutnya, digitalisasi dapat membantu pelaku usaha memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi operasional.
Ia menjelaskan bahwa MPStore mengembangkan ekosistem teknologi untuk mendukung warung kelontong dan UMKM, termasuk melalui layanan pembayaran, rantai pasok, pengelolaan laporan keuangan, dan pemanfaatan AI untuk membantu menangani pesanan.
Teknologi tersebut dapat membantu pelaku usaha mengelola komunikasi dengan pelanggan, mengatur kebutuhan logistik, serta memproses pembayaran. Bagi pemilik warung yang menjalankan banyak pekerjaan sekaligus, dukungan teknologi berpotensi membuat aktivitas usaha menjadi lebih praktis.
Abdul juga menyoroti besarnya peluang yang muncul dari penggunaan internet dan media sosial. Pelaku usaha maupun kreator kini dapat memperkenalkan produk tanpa harus bergantung pada iklan konvensional yang membutuhkan anggaran besar.
Konten yang relevan, konsisten, dan memiliki karakter dapat membantu suatu produk dikenal oleh calon konsumen. Bahkan, seseorang yang tidak memiliki produk sendiri dapat membangun usaha melalui pemasaran, promosi, atau penjualan produk milik pihak lain.
Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan di ruang digital tidak cukup hanya mengandalkan jumlah pengikut atau popularitas. Kepercayaan menjadi modal penting untuk mempertahankan pelanggan dan membangun reputasi dalam jangka panjang.
Jangan Hanya Menjadi Penonton, Mulailah Menghasilkan Karya
Abdul mengajak peserta mengubah kebiasaan menggunakan internet dari sekadar menonton dan menggulir konten menjadi aktivitas yang lebih produktif.
Menurutnya, waktu yang dihabiskan di media sosial dapat dimanfaatkan untuk mempelajari keterampilan, memasarkan produk, membangun layanan, atau menghasilkan karya yang memiliki nilai tambah.
Langkah awal tidak harus berupa usaha besar. Seseorang dapat memulai dari kemampuan yang dimiliki, hobi, atau topik yang benar-benar dikuasai. Konten tentang keterampilan tertentu, edukasi keuangan, keamanan digital, kuliner, maupun budaya lokal dapat dikembangkan sesuai minat dan kebutuhan audiens.
Ia mencontohkan kisah kreator yang memanfaatkan aktivitas sederhana di warung untuk membangun audiens dan mempromosikan produk. Contoh tersebut menunjukkan bahwa peluang berkarya tidak selalu bergantung pada kepemilikan modal besar atau produk sendiri.
Konsistensi juga menjadi faktor penting. Jika belum mampu membuat konten setiap hari, seseorang dapat memulainya dengan jadwal mingguan atau bulanan. Hal yang perlu dijaga adalah keberlanjutan proses belajar dan kualitas karya yang dihasilkan.
Abdul turut mendorong pelaku usaha untuk membangun interaksi yang baik dengan audiens, menanggapi pertanyaan, dan merawat komunitas. Dengan cara tersebut, media sosial tidak hanya menjadi tempat promosi, tetapi juga sarana membangun hubungan dan kepercayaan.
Lindungi Data Pribadi dan Waspadai Penipuan Online
Di balik peluang ekonomi digital, Abdul mengingatkan bahwa pengguna internet juga menghadapi risiko penipuan dan pencurian data.
Aplikasi berbahaya yang dipasang dari sumber tidak tepercaya dapat digunakan untuk mengakses informasi pada perangkat, termasuk pesan dan kode verifikasi. Pelaku kemudian dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mengambil alih akun atau melakukan transaksi tanpa persetujuan korban.
Karena itu, pengguna diminta tidak sembarangan memasang berkas aplikasi atau mengeklik tautan yang dikirim oleh pihak yang tidak dikenal. Kode OTP tidak boleh diberikan kepada orang lain, sementara PIN dan kata sandi harus dibuat dengan kombinasi yang sulit ditebak.
Pengaktifan verifikasi dua langkah dan fitur keamanan tambahan juga disarankan untuk melindungi akun. Sebelum mengirimkan uang, masyarakat perlu memeriksa identitas penerima dan memastikan transaksi dilakukan melalui saluran yang benar.
Abdul juga mengingatkan pentingnya menjaga data pribadi milik orang lain. Informasi identitas, seperti foto KTP, tidak seharusnya disebarkan ke media sosial untuk mempermalukan seseorang atau menagih utang. Persoalan semacam itu perlu ditangani melalui jalur yang sesuai agar tidak menimbulkan masalah baru.
Di samping itu, penggunaan teknologi AI perlu disertai tanggung jawab. Konten yang dihasilkan menggunakan AI sebaiknya diberi keterangan yang sesuai, sementara penggunaan wajah, suara, atau karya milik orang lain harus memperhatikan izin dan hak cipta.
Kemampuan teknologi untuk menghasilkan konten yang semakin realistis juga menuntut masyarakat lebih berhati-hati dalam membedakan konten asli dan hasil manipulasi.
Benar, Bermanfaat, dan Beretika Jadi Prinsip Membuat Konten
Abdul menegaskan bahwa popularitas tidak selalu sejalan dengan kredibilitas. Konten yang viral memang dapat menarik perhatian, tetapi kepercayaan membutuhkan proses yang lebih panjang.
Ia mengajak masyarakat menerapkan tiga prinsip dalam membuat dan membagikan konten, yaitu benar, bermanfaat, dan beretika.
Pertama, pastikan informasi yang disampaikan memiliki dasar yang jelas. Kedua, pertimbangkan apakah konten memberikan nilai positif bagi audiens. Ketiga, perhatikan etika, termasuk cara menyampaikan pendapat dan menghormati orang lain.
Prinsip tersebut berlaku bagi kreator konten, pelaku UMKM, maupun pengguna media sosial secara umum. Kritik terhadap kebijakan atau tokoh publik tetap dapat disampaikan, tetapi sebaiknya dilakukan dengan argumen yang jelas tanpa penghinaan atau penyebaran informasi palsu.
Abdul juga mengingatkan bahwa rekam jejak digital dapat memengaruhi reputasi pribadi dan profesional. Karena itu, membangun citra diri di internet perlu dilakukan secara konsisten melalui karya yang autentik, perilaku yang bertanggung jawab, dan komitmen untuk menjaga kepercayaan.
Menurutnya, kepercayaan merupakan bagian penting dari identitas seseorang maupun sebuah usaha. Reputasi yang baik dapat mendorong orang lain untuk menggunakan layanan, membeli produk, atau merekomendasikan suatu usaha kepada orang lain.
Mendorong Masyarakat Digital yang Cakap dan Berdaya Saing
Kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara menyoroti pentingnya menyelaraskan kreativitas dengan literasi digital. Kebebasan berekspresi di internet memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan ide, tetapi kebebasan tersebut perlu diiringi pengetahuan, keamanan, dan tanggung jawab.
Bagi masyarakat Madura, kombinasi antara teknologi dan kekuatan budaya lokal dapat menjadi peluang untuk mengembangkan UMKM, memperluas pasar produk daerah, serta memperkenalkan tradisi kepada generasi yang lebih luas.
Penguasaan keterampilan seperti pembuatan video menggunakan telepon seluler, pemasaran digital, perdagangan elektronik, pemanfaatan AI, dan pengelolaan data dapat membantu masyarakat meningkatkan produktivitas.
Pada saat yang sama, keamanan akun, perlindungan data pribadi, pemeriksaan fakta, dan etika berkomunikasi harus menjadi kebiasaan dalam aktivitas sehari-hari.
Melalui kreativitas yang bertanggung jawab, masyarakat diharapkan mampu menjadikan ruang digital sebagai tempat untuk belajar, berkolaborasi, membangun usaha, dan memperkuat identitas budaya. Dengan begitu, teknologi tidak hanya digunakan untuk mencari perhatian, tetapi juga menghasilkan karya yang bermanfaat dan membangun kepercayaan dalam jangka panjang.



