Jakarta – Sekolah dinilai memiliki peran strategis dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Karena itu, integrasi antara pemenuhan gizi dan pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat kedaulatan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam webinar bertajuk “Sekolah sebagai Benteng Pertahanan SDM: Mengintegrasikan Gizi dan Pendidikan untuk Kedaulatan Bangsa” . (4/8)
Anggota Komisi I DPR RI, Dr. H. Jefry Romdonny, S.E., S.Sos., M.Si., M.M., menyampaikan bahwa pembangunan SDM tidak dapat dipisahkan dari sektor pendidikan dan pemenuhan gizi. Menurutnya, pendidikan berkualitas harus didukung kondisi kesehatan dan gizi anak yang baik agar proses pembelajaran dapat berjalan optimal.
Jefry menjelaskan sejumlah faktor yang memengaruhi kualitas pendidikan, di antaranya kondisi gizi anak, kualitas guru, lingkungan dan sarana belajar, serta pemerataan akses pendidikan. Dari berbagai aspek tersebut, pemenuhan kebutuhan gizi menjadi fondasi penting karena anak yang sehat dan memperoleh asupan gizi yang baik memiliki kesiapan belajar dan konsentrasi yang lebih baik.
Ia juga menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan semata-mata program kesehatan, tetapi juga merupakan investasi pendidikan dan pembangunan bangsa. Program tersebut dinilai dapat mendukung kesiapan belajar anak sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia.
Sementara itu, Direktur Promosi dan Edukasi Gizi, Dr. Gunalan A.P., M.Si., menekankan bahwa sekolah merupakan ruang strategis untuk membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus karakter peserta didik.
Menurutnya, masih terdapat tantangan berupa anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan serta persoalan gizi seperti kekurangan gizi, anemia, obesitas, dan pola konsumsi makanan yang tidak seimbang. Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap konsentrasi, prestasi belajar, hingga produktivitas generasi mendatang.
Program MBG, lanjut Gunalan, diharapkan tidak hanya menyediakan makanan bergizi, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat melalui aktivitas sederhana seperti mencuci tangan, mengantre, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab setelah makan.
Program tersebut juga dinilai memiliki dampak lebih luas karena melibatkan berbagai pihak, termasuk koperasi, BUMDes, UMKM, petani, peternak, dan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, pemenuhan gizi anak sekaligus dapat mendorong aktivitas ekonomi di daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Ahmad Khoiri, M.Pd., Dosen STKIP Melawi, menyoroti pentingnya pemenuhan gizi sejak masa awal pertumbuhan anak. Menurutnya, 1.000 hari pertama kehidupan merupakan fase penting dalam perkembangan otak, kemampuan kognitif, daya ingat, dan konsentrasi.
Ia juga menekankan bahwa sekolah dapat menjadi titik strategis untuk mengintegrasikan edukasi gizi dengan proses pendidikan. Program tersebut perlu didukung oleh sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, ahli gizi, serta orang tua agar kebiasaan hidup sehat yang dibangun di sekolah dapat diterapkan pula di lingkungan keluarga.
Pengawasan Menu dan Peran Orang Tua
Dalam sesi tanya jawab, peserta menyoroti pengawasan terhadap menu makanan dalam Program MBG serta bagaimana menyelaraskan edukasi gizi antara sekolah dan rumah.
Gunalan menjelaskan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki prosedur pengendalian mutu. Sebelum makanan dibagikan, disiapkan sampel makanan untuk diperiksa dan disimpan sebagai bagian dari prosedur pengawasan keamanan pangan.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada orang tua, sekolah, pengelola kantin, hingga pelaku usaha agar pemahaman mengenai makanan bergizi tidak berhenti di lingkungan sekolah.
Sementara itu, Ahmad Khoiri menegaskan bahwa keberhasilan program membutuhkan sinergi antara sekolah dan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk pola makan anak, sementara pengelola kantin perlu mendapatkan pembinaan agar makanan yang dijual di lingkungan sekolah tetap sehat dan bergizi.
Melalui kolaborasi pemerintah, sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, pelaku usaha, dan masyarakat, integrasi gizi dan pendidikan diharapkan mampu membentuk generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, dan produktif.
Investasi pada gizi dan pendidikan pada akhirnya bukan hanya investasi untuk anak hari ini, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas SDM dan masa depan kedaulatan bangsa.



