KKPU Dorong Pemilih Pemula Cerdas Bermedia Sosial dan Aktif dalam Demokrasi

Jakarta – Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus memperkuat pendidikan pemilih berkelanjutan bagi kelompok pemilih rentan, marjinal, dan pemula. Kegiatan yang digelar pada Senin, 10 Agustus 2026 tersebut menekankan pentingnya membangun pemilih yang cerdas, kritis, mandiri, dan bertanggung jawab dalam kehidupan demokrasi.

KPU menilai demokrasi yang berkualitas tidak hanya diukur dari kehadiran masyarakat di tempat pemungutan suara, tetapi juga dari kemampuan warga memahami hak dan kewajibannya serta berpartisipasi secara aktif dalam mengawal proses demokrasi.

Dalam kegiatan tersebut, akademisi Siti Zaenab menyoroti tantangan masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital. Media sosial dinilai memiliki dua sisi, yakni sebagai sarana memperluas pengetahuan sekaligus menjadi ruang yang rentan terhadap hoaks, disinformasi, dan ujaran kebencian.

Siti memperkenalkan “Saringan 3T”, yaitu Teliti, Telusuri, dan Tahan. Masyarakat diajak untuk memeriksa informasi secara kritis, menelusuri sumber melalui kanal resmi dan media terpercaya, serta menahan diri untuk tidak membagikan informasi yang belum terbukti kebenarannya.

Peserta juga dibekali “Radar Anti-Hoaks” melalui kebiasaan sederhana, seperti tidak mudah percaya hanya karena sebuah informasi viral, memeriksa tanggal berita, mengecek kredibilitas akun, membandingkan dengan media terpercaya, serta tidak hanya membaca judul.

Sementara itu, Supi Septia Wahyuni, Sekretaris Anak Muda Berkarya, menekankan posisi penting pemilih pemula dalam menentukan masa depan demokrasi. Pemilih pemula diharapkan memahami hak dan kewajibannya serta mampu menentukan pilihan secara bebas, cerdas, dan bertanggung jawab.

Pemilih pemula juga diingatkan untuk tidak mudah terpengaruh hoaks, politik uang, maupun informasi yang belum terverifikasi. Sebelum menentukan pilihan, mereka didorong mempelajari visi, misi, program, dan rekam jejak calon sehingga keputusan politik tidak semata-mata didasarkan pada popularitas atau ajakan pihak lain.

Materi berikutnya disampaikan Seli Diana Putri, Ketua Kohati Kabupaten Bandung sekaligus aktivis perempuan, yang membahas penguatan kepemimpinan pelajar. Menurutnya, sekolah dapat menjadi ruang penting untuk membangun karakter, kepemimpinan, integritas, dan kesadaran politik generasi muda.

Organisasi siswa seperti OSIS dinilai memiliki peran strategis dalam melatih pelajar berorganisasi, menyampaikan aspirasi, bermusyawarah, mengambil keputusan secara transparan, serta belajar menjadi agen perubahan. Forum OSIS juga dapat menjadi ruang kolaborasi antarpelajar untuk bertukar gagasan dan mengembangkan inovasi.

Pelajar juga didorong mengenal praktik demokrasi melalui kegiatan seperti simulasi pemilu, debat kandidat, hingga pemanfaatan teknologi dalam proses pemilihan. Penguatan kepemimpinan tersebut diharapkan dapat meningkatkan partisipasi pemilih pemula sekaligus membangun budaya politik yang sehat dan berintegritas.

Melalui kegiatan pendidikan pemilih berkelanjutan ini, KPU mendorong generasi muda untuk tidak menjadi pengguna media sosial yang mudah percaya, tetapi menjadi generasi yang mampu mencari kebenaran, menghargai perbedaan, aktif berpartisipasi, dan siap menjadi pemimpin masa depan yang berintegritas.

Share this post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *