Komdigi dan DPR RI Perkuat Pemerataan Nutrisi Lewat Program Makan Bergizi Gratis untuk Wujudkan Generasi Emas 2045

Jakarta – Komisi I DPR RI bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar webinar bertema “Mewujudkan Generasi Emas Melalui Nutrisi yang Merata”. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, Badan Gizi Nasional (BGN), akademisi, serta masyarakat dalam memperkuat pemahaman mengenai pentingnya pemerataan akses gizi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. (14/7)

Anggota Komisi I DPR RI Rachel Maryam Sayidina menegaskan bahwa cita-cita mewujudkan Generasi Emas Indonesia bukan sekadar slogan, melainkan target besar yang harus dipersiapkan sejak dini melalui pemenuhan gizi yang berkualitas dan merata.

Menurutnya, persoalan stunting, gizi buruk, serta kesenjangan akses pangan bergizi masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama. Anak-anak yang tinggal di wilayah terpencil maupun berasal dari keluarga kurang mampu memiliki potensi yang sama untuk berkembang, sehingga negara memiliki tanggung jawab memastikan setiap anak memperoleh hak atas asupan gizi yang layak.

Rachel menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan sekaligus mendukung peningkatan prestasi belajar peserta didik. Program tersebut juga diharapkan mampu menjangkau masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), sehingga pemerataan nutrisi dapat benar-benar dirasakan di seluruh Indonesia.

Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung efektivitas pelaksanaan program. Menurutnya, sistem data berbasis digital dapat memastikan bantuan disalurkan secara tepat sasaran, sementara media digital menjadi sarana edukasi masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang dan pola hidup sehat.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Gunalan, A.P., M.Si, menyampaikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pangan anak sekolah, tetapi juga menciptakan kesempatan belajar yang lebih setara bagi seluruh peserta didik tanpa memandang kondisi ekonomi maupun wilayah tempat tinggal.

Ia menjelaskan bahwa setelah kembali berjalan usai libur sekolah, program MBG terus disempurnakan melalui peningkatan kualitas pelayanan, penguatan sistem pengawasan, serta evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan di lapangan.

Menurut Gunalan, program tersebut memberikan manfaat di berbagai sektor, mulai dari peningkatan status gizi anak, mendukung proses belajar di sekolah, hingga membantu mengurangi beban pengeluaran keluarga. Selain itu, keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga menjadi penggerak ekonomi lokal melalui keterlibatan petani, peternak, nelayan, koperasi, dan pelaku UMKM dalam penyediaan bahan pangan.

BGN juga terus memperkuat tata kelola program melalui kebijakan yang berfokus pada ketepatan sasaran, peningkatan kualitas layanan, serta pengelolaan yang transparan dan akuntabel. Prioritas diberikan kepada wilayah dengan tingkat kerawanan gizi tinggi, termasuk daerah 3T, agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih merata.

Dalam kesempatan yang sama, Akademisi Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Yanto, Ph.D., menekankan bahwa nutrisi merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul.

Menurutnya, pemerataan nutrisi tidak berarti seluruh masyarakat mengonsumsi jenis makanan yang sama, melainkan memastikan setiap individu memiliki akses yang adil terhadap pangan bergizi, aman, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Ia menjelaskan bahwa kecukupan gizi berperan penting terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas seseorang di masa depan. Sebaliknya, stunting masih menjadi ancaman serius karena berdampak pada rendahnya kemampuan kognitif, meningkatnya risiko penyakit kronis, serta menurunkan daya saing bangsa.

Yanto juga mengingatkan bahwa tantangan pemerataan gizi masih cukup besar. Ketimpangan akses pangan sehat, kondisi sosial ekonomi masyarakat, hingga kebiasaan konsumsi yang belum seimbang menjadi faktor yang harus mendapat perhatian bersama.

Ia mengajak masyarakat menerapkan pola makan sesuai konsep “Isi Piringku” yang diperkenalkan Kementerian Kesehatan, serta rutin memantau status gizi anak sebagai langkah pencegahan stunting dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

Para narasumber sepakat bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak dapat diwujudkan oleh pemerintah semata. Dukungan DPR RI, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, akademisi, pelaku usaha, media, hingga keluarga menjadi faktor penting dalam memastikan program berjalan efektif dan berkelanjutan.

Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu mempercepat pemerataan akses nutrisi, meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat ekonomi masyarakat, sekaligus mencetak generasi Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, dan siap menyongsong visi Indonesia Emas 2045.

Share this post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *