Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Dorong Generasi Muda Wujudkan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Nyata

Banyumas– Gerakan Kebajikan Pancasila mendorong generasi muda untuk tidak sekadar memahami dan menghafalkan Pancasila, tetapi menjadikannya sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila yang digelar pada Selasa, 11 Agustus 2026. Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas Pancasila dari perspektif generasi muda, sejarah, hingga pembentukan karakter dan kebajikan.

Anggota DPR RI Komisi XIII, Yanuar Arif Wibowo, S.H., M.I.Pol., menekankan pentingnya Pancasila sebagai kompas moral, etika, dan jati diri generasi muda di tengah arus modernisasi serta globalisasi. Menurutnya, generasi muda memiliki empat peran penting, yakni sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, agen perubahan, dan pelopor kebajikan.

Yanuar juga menyoroti tantangan era digital, mulai dari banjir informasi dan hoaks, masuknya budaya asing, meningkatnya individualisme, hingga potensi ujaran kebencian dan perundungan di media sosial. Karena itu, generasi muda perlu memiliki karakter beriman dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, gotong royong, bernalar kritis, dan kreatif.

Sementara itu, Direktur Pengendalian BPIP RI Sadono Sriharjo, S.T., M.M., mengajak peserta memahami Pancasila melalui proses sejarah kelahirannya. Ia menjelaskan rangkaian pembentukan Pancasila mulai dari sidang BPUPK, pidato Sukarno pada 1 Juni 1945, perumusan Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, hingga pengesahan dalam Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945.

Menurut Sadono, proses tersebut menunjukkan bahwa Pancasila lahir melalui rangkaian dialog, perbedaan pandangan, musyawarah, dan kesepakatan para pendiri bangsa. Karena itu, sejarah Pancasila perlu dipahami sebagai satu rangkaian yang utuh, bukan hanya berdasarkan satu tanggal tertentu.

Ia juga menjelaskan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, ideologi negara, pemersatu bangsa, serta paradigma dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemahaman tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat menerapkan nilai Pancasila secara nyata dalam kehidupan.

Pembahasan mengenai praktik nilai Pancasila kemudian diperdalam oleh Prof. Dr. Kuat Puji Prayitno, S.H., M.Hum., Wakil Rektor 2 Universitas Jenderal Soedirman. Ia menekankan bahwa Pancasila harus diwujudkan melalui pembentukan karakter dan kebajikan personal.

Menurutnya, kebajikan tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara berulang hingga menjadi kebiasaan dan karakter. Proses tersebut kemudian berkembang menjadi etos kerja dan etos kehidupan bermasyarakat.

Prof. Kuat juga menguraikan konsekuensi perilaku dari setiap sila Pancasila. Nilai Ketuhanan dikaitkan dengan integritas dan landasan moral, nilai kemanusiaan dengan empati dan penghargaan terhadap martabat manusia, persatuan dengan kepentingan bersama, kerakyatan dengan musyawarah, serta keadilan sosial dengan kepedulian, kerja keras, keseimbangan hak dan kewajiban, serta pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan tersebut menegaskan bahwa Gerakan Kebajikan Pancasila diarahkan untuk mengubah nilai menjadi tindakan nyata. Aktualisasi Pancasila dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi berbagai persoalan sosial, seperti korupsi, polarisasi, intoleransi, konflik di ruang digital, kesenjangan sosial, hingga ketidakpedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Dengan demikian, gerakan tersebut mendorong agar nilai Pancasila tidak berhenti sebagai wacana atau hafalan. Nilai tersebut diharapkan berkembang menjadi kebiasaan, karakter, dan gerakan kebajikan yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat dan bangsa.

Share this post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *