Bengkulu — Nilai-nilai Pancasila dinilai perlu diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah kehidupan masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila yang digelar di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, 20 September 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota DPR RI Komisi XIII Hj. Eko Kurnia Ningsih, Analis Hukum Ahli Madya BPIP RI Jackson Simamora, S.H., M.Si., serta akademisi Universitas Muhammadiyah Bengkulu Dr. Elfahmi Lubis, S.H.
Dalam kegiatan tersebut, para narasumber membahas pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Demokrasi Pancasila, hingga peran relawan dalam menerjemahkan nilai kebangsaan menjadi aksi sosial.

Hj. Eko Kurnia Ningsih mengajak masyarakat tidak memandang Pancasila sebatas teori atau hafalan. Menurutnya, nilai Pancasila dapat terlihat dari cara masyarakat memperlakukan orang-orang di sekitarnya.
Membantu tetangga yang terkena musibah, tidak mempermalukan orang yang sedang mengalami kesulitan, menjaga ucapan, serta menyelesaikan persoalan melalui komunikasi yang baik merupakan contoh sederhana pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak menggunakan media sosial. Informasi yang belum tentu benar, jika langsung disebarkan, dapat memicu persoalan dan mengganggu hubungan antarwarga.
Karena itu, menjaga persatuan menurutnya tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Hal tersebut dapat dimulai dengan menjaga ucapan, tidak memperkeruh persoalan, tidak memprovokasi, dan tetap menghormati orang lain meskipun memiliki perbedaan pendapat.
Demokrasi Pancasila dan Kedaulatan Rakyat
Sementara itu, Jackson Simamora membawakan materi mengenai Demokrasi Pancasila dengan tema “Mewujudkan Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial, dan Martabat.”


Ia menjelaskan bahwa Demokrasi Pancasila bukan sekadar sistem pemerintahan, tetapi juga mencerminkan nilai musyawarah, keadilan, gotong royong, dan persatuan dalam keberagaman.
Menurut Jackson, Demokrasi Pancasila memiliki tiga pilar utama, yakni politik berdasarkan Pancasila, ekonomi berdasarkan Pancasila, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia. Ketiga aspek tersebut perlu berjalan secara beriringan dalam mewujudkan kedaulatan rakyat.
Dalam bidang politik, ia menekankan pentingnya partisipasi masyarakat, perlindungan terhadap kelompok minoritas, serta transparansi dan akuntabilitas. Sementara dalam bidang ekonomi, ia memperkenalkan konsep ekonomi kerakyatan yang berbasis kekeluargaan.
Jackson juga menyoroti peran UMKM dalam perekonomian nasional. Berdasarkan data yang dipaparkannya, terdapat 64,2 juta UMKM yang berkontribusi 61 persen terhadap PDB berdasarkan data Kemenkop UKM tahun 2023.
Selain demokrasi dan ekonomi, penghormatan terhadap hak asasi manusia juga menjadi bagian penting dalam Demokrasi Pancasila. Ia menekankan bahwa hak harus berjalan bersama kewajiban untuk menghormati hak orang lain.
Relawan Didorong Jadi Teladan
Materi berikutnya disampaikan Dr. Elfahmi Lubis dengan tema “Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila” melalui alur dari nilai menjadi sikap, menjadi aksi nyata.
Elfahmi menegaskan bahwa relawan bukan hanya bertugas menyampaikan pesan mengenai Pancasila, tetapi juga harus menjadi teladan di tengah masyarakat.
Nilai yang ditekankan meliputi gotong royong, toleransi, kepedulian sosial, persatuan, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai tersebut kemudian diharapkan diterjemahkan menjadi tindakan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia juga memperkenalkan konsep Pancasila sebagai Living Ideology atau ideologi yang hidup. Di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, globalisasi, perubahan iklim, serta ketidakpastian ekonomi, Pancasila dinilai perlu terus menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat.
Generasi muda juga disebut memiliki peran penting dalam menghidupkan nilai-nilai tersebut.
Gerakan Kebajikan Pancasila, lanjut Elfahmi, diarahkan sebagai gerakan moral sekaligus sosial. Relawan diharapkan menjadi “tangan Pancasila” yang menerjemahkan nilai menjadi kegiatan nyata.
Ada lima tujuan dan peran yang disampaikan, yakni menjadikan nilai Pancasila sebagai tindakan sehari-hari, menjadi penggerak masyarakat, menangkal hoaks dan disinformasi, menjaga kohesi sosial, serta menghidupkan nilai-nilai luhur di tengah perkembangan era digital.
Penerapannya dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan. Mulai dari toleransi lintas iman, bantuan bencana dan santunan, dialog antarkampung, kampanye anti-hoaks dan ujaran kebencian, membuka ruang aspirasi masyarakat, hingga mendukung UMKM, pelatihan, beasiswa, bedah rumah, bank sampah, dan bantuan hukum.
Pancasila Dimulai dari Keteladanan
Pada akhir kegiatan, para narasumber menekankan pentingnya membawa nilai-nilai Pancasila dari ruang sosialisasi ke lingkungan masyarakat.
Hj. Eko Kurnia Ningsih mengajak peserta memulai penerapan Pancasila dari keluarga, tetangga, hingga lingkungan desa. Menurutnya, desa yang kuat bukan hanya ditandai pembangunan yang baik, tetapi juga masyarakat yang mampu hidup berdampingan, saling menghormati, dan menyelesaikan persoalan tanpa saling menjatuhkan.
Sementara itu, Dr. Elfahmi Lubis menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya untuk dihafal, tetapi perlu dihidupi melalui kebajikan dan tindakan nyata.
Ia menyebut karakter, integritas, keadilan, dan kepedulian sosial sebagai bagian penting dalam membangun bangsa. Menurutnya, perubahan dapat dimulai dari keteladanan dan tindakan baik yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.



