Jakarta – Dunia digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak masa kini. Namun di balik kemudahan akses, terdapat tantangan besar dalam memastikan generasi muda tidak kehilangan arah. (28/04)
Webinar nasional bertema “Strategi Mengarahkan Anak Masa Kini dalam Belajar agar Melek Digital menuju ke arah yang Positif” menyoroti pentingnya membangun generasi digital yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga bijak secara sosial.
Para narasumber sepakat bahwa teknologi bersifat netral, namun dampaknya sangat ditentukan oleh cara penggunaannya. Tanpa literasi yang cukup, anak-anak berisiko terpapar hoaks, cyberbullying, hingga eksploitasi data.
“Anak-anak hari ini hidup di dunia yang serba cepat. Tantangannya bukan apakah mereka akan terpapar teknologi, tapi apakah mereka siap menghadapinya,” ungkap salah satu narasumber.
Webinar ini juga menyoroti fenomena anak-anak yang memiliki kemampuan teknis tinggi, namun belum memiliki kemampuan menyaring informasi dan memahami dampak digital.
Di sisi lain, potensi generasi muda dinilai sangat besar. Dengan arahan yang tepat, mereka dapat menjadi kreator konten, inovator, bahkan pelaku ekonomi digital.
Namun hal tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor—mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah.
“Teknologi bisa menjadi distraksi, tapi juga bisa menjadi akselerator. Perbedaannya ada pada bagaimana kita mengarahkan,” tegas narasumber.
Sebagai penutup, peserta diajak untuk mulai dari langkah kecil, seperti mendampingi anak saat online, membangun komunikasi terbuka, dan menjadikan teknologi sebagai sarana belajar bersama.
Dengan upaya kolektif, Indonesia berpeluang besar mencetak generasi digital yang tidak hanya adaptif, tetapi juga berkarakter dan berdaya saing di masa depan.



