Madura -Krisis air yang setiap tahun melanda Madura mendorong munculnya kesadaran baru di tengah masyarakat untuk mulai menghemat air dari hal-hal kecil di rumah.
Dalam webinar yang digelar Senin (27/4), berbagai narasumber menekankan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti mematikan keran saat tidak digunakan atau menampung air hujan.
H. Imron Amin mengungkapkan bahwa banyak warga Madura harus berjalan jauh bahkan membeli air dengan harga tinggi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Air di sini bukan sekadar kebutuhan, tapi perjuangan,” ujarnya.
Di sisi lain, masyarakat mulai menunjukkan inisiatif mandiri. Beberapa komunitas telah mengembangkan sistem penampungan air hujan sederhana yang terbukti membantu saat musim kemarau.
Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai efektif karena memiliki efek sosial yang kuat—kebiasaan baik di satu rumah dapat menular ke rumah lain, hingga menjadi gerakan kolektif.
“Kadang kita merasa hemat air itu tidak berdampak. Padahal kalau dilakukan bersama, hasilnya besar,” ungkap salah satu narasumber.
Selain itu, peran keluarga dan anak-anak juga menjadi penting dalam membangun budaya hemat air. Edukasi sejak dini dinilai mampu menciptakan kebiasaan jangka panjang yang berkelanjutan.
Webinar ini menegaskan bahwa swasembada air bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga gerakan bersama masyarakat yang dimulai dari rumah.
Dengan langkah kecil yang konsisten, harapan akan ketahanan air di Madura perlahan mulai dibangun—dari satu rumah, ke satu kampung, hingga ke seluruh wilayah.



