Jakarta – Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus mendorong peningkatan kualitas demokrasi melalui pendidikan pemilih yang inklusif dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan kepada Kelompok Pemilih Rentan, Marjinal, dan Pemula, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menekankan pentingnya masyarakat, khususnya generasi muda, menjadi pemilih yang cerdas, kritis, mandiri, dan bertanggung jawab. Pemilih juga diingatkan untuk mewaspadai hoaks, disinformasi, politik uang, ujaran kebencian, serta sikap apatis terhadap demokrasi.
Aktivis Pergerakan Pemuda Ambaransyah Pradipta AlBaihaqi, S.H. mengajak generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam proses demokrasi. Menurutnya, satu suara memiliki peran dalam menentukan arah kebijakan yang berdampak langsung terhadap pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan hingga pembangunan.
Sementara itu, Akademisi/Pegiat Pemilu Marli Candra, LLB (HONS)., MCL. menekankan pentingnya pemilu berintegritas. Ia mendorong pemuda menjadi pemilih cerdas, pengawas partisipatif, dan pendidik pemilih sebaya. Generasi muda juga diminta tidak mudah terpengaruh politik uang, politik identitas, hoaks, dan kampanye hitam.
Pengamat Demokrasi dan Politik Singgih Manggalou, S.IP., M.IP. menambahkan bahwa era digital membuka ruang partisipasi politik yang lebih luas, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa disinformasi dan manipulasi opini. Ia mengajak generasi muda membiasakan diri melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya.
Melalui kegiatan ini, pemuda diharapkan tidak berhenti pada partisipasi saat pemilu, tetapi turut mengawal kebijakan, menyampaikan kritik secara konstruktif, serta menjaga ruang digital agar tetap sehat. Demokrasi yang berkualitas dinilai membutuhkan partisipasi warga yang aktif, kritis, dan berintegritas.



