Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Didorong Jadikan Pancasila sebagai Kompas Generasi Muda

Cilacap – Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai Pancasila di tengah perkembangan teknologi, arus globalisasi, dan berbagai tantangan sosial. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila yang digelar pada Rabu, 29 Juli 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Anggota DPR RI Komisi XIII sekaligus Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Yanuar Arif Wibowo, S.H., M.I.Pol., menyampaikan materi bertema “Pancasila & Generasi Muda Indonesia”. Ia menekankan bahwa Pancasila harus menjadi kompas moral dan etika bagi generasi muda, bukan sekadar hafalan di lingkungan pendidikan.

Menurutnya, generasi muda memiliki empat peran strategis, yakni sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, agen perubahan, dan pelopor kebajikan di tengah masyarakat. Peran tersebut semakin penting di era digital yang menghadirkan tantangan berupa hoaks, perundungan siber, ujaran kebencian, hingga masuknya budaya asing tanpa penyaringan.

Yanuar juga mendorong terbentuknya karakter Generasi Muda Pancasila yang beriman dan berakhlak, mampu menghargai keberagaman, mandiri, memiliki semangat gotong royong, bernalar kritis, serta kreatif dalam menciptakan solusi.

Sementara itu, Direktur Hubungan Antar Lembaga dan Kerja Sama BPIP RI, Dr. Mukhammad Fakhrurozi, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa Pancasila memiliki kedudukan penting sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, ideologi negara, pemersatu bangsa, sekaligus paradigma dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Ia menekankan bahwa Pancasila harus menjadi living ideology atau ideologi yang hidup. Hal tersebut hanya dapat diwujudkan apabila nilai-nilai Pancasila tidak hanya diyakini dan dipahami, tetapi juga dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Hal senada disampaikan Guru Besar Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia, Prof. Dr. Phil. Aditya Perdana, S.I.P., M.Si. Menurutnya, Pancasila harus menjadi kompas dalam mengambil keputusan, terutama ketika generasi muda menghadapi persoalan di sekolah, lingkungan sosial, maupun ruang digital.

Ia memperkenalkan tiga tahapan dalam menerapkan nilai Pancasila, yaitu pahami, timbang, dan lakukan. Setiap keputusan perlu mempertimbangkan nilai moral, pihak yang terdampak, serta konsekuensi sebelum menentukan tindakan yang paling adil dan bertanggung jawab.

Dalam konteks kehidupan digital, peserta juga diajak lebih kritis sebelum membagikan informasi. Mereka diingatkan untuk memastikan sumber informasi, memahami konteks, memperhatikan privasi, mempertimbangkan dampak terhadap pihak lain, serta menilai manfaat informasi sebelum menyebarkannya.

Kegiatan ditutup dengan ajakan untuk membumikan Pancasila melalui kebiasaan sederhana, seperti menghentikan candaan yang merendahkan, memeriksa kebenaran informasi, mendengarkan orang lain, menyampaikan kritik berdasarkan fakta dan solusi, serta memastikan setiap orang memperoleh kesempatan yang setara.

Pesan utama kegiatan tersebut adalah bahwa Pancasila tidak berhenti pada hafalan, tetapi harus diwujudkan melalui keputusan dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Share this post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *