Jakarta – Komisi Pemilihan Umum (KPU) terus memperkuat literasi politik masyarakat melalui kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan bagi kelompok pemilih rentan, marjinal, dan pemilih pemula. Kegiatan yang digelar pada Sabtu (1/8/2026) ini menitikberatkan pada peran strategis generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi sekaligus menghadapi tantangan perkembangan teknologi digital menjelang Pemilu 2029.
Dalam keynote speech, KPU menegaskan bahwa demokrasi yang berkualitas tidak hanya diukur dari tingginya angka partisipasi pemilih saat pencoblosan, tetapi juga dari pemahaman masyarakat terhadap hak, kewajiban, serta tanggung jawab sebagai warga negara. Melalui pendidikan pemilih yang berkelanjutan, KPU berharap masyarakat mampu menjadi pemilih yang kritis, mandiri, serta tidak mudah terpengaruh hoaks, politik uang, maupun ujaran kebencian.
Pegiat Demokrasi Zamzam Syahara mengajak generasi muda mengubah kebiasaan menghabiskan waktu di media sosial menjadi kekuatan untuk berpartisipasi dalam demokrasi. Menurutnya, Gen Z dan Milenial memiliki posisi yang sangat menentukan karena diproyeksikan mendominasi jumlah pemilih pada Pemilu 2029.
Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya rendahnya kepercayaan terhadap politik, tetapi juga maraknya disinformasi, filter bubble, serta berkembangnya praktik politik uang berbasis digital melalui berbagai platform daring. Karena itu, literasi digital dan kemampuan melakukan verifikasi informasi menjadi bekal penting agar pemilih muda mampu menentukan pilihan secara rasional.
Ketua Departemen Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia, Panji Anugrah Permana, menegaskan bahwa suara pemilih pemula akan sangat menentukan arah kebijakan nasional pada periode 2029–2034. Ia mengingatkan agar anak muda tidak memilih berdasarkan popularitas semata, melainkan memperhatikan rekam jejak, integritas, visi, dan program kerja para kandidat.
Menurutnya, isu pendidikan, lapangan pekerjaan, kecerdasan buatan (AI), lingkungan hidup, hingga krisis iklim merupakan persoalan yang akan langsung memengaruhi kehidupan generasi muda. Oleh sebab itu, partisipasi politik menjadi langkah penting agar kebijakan pemerintah benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat.
Sementara itu, Jurnalis Nusantara TV Muhammad Irsal menjelaskan bahwa media massa memiliki peran penting dalam menjaga kualitas demokrasi melalui penyajian informasi yang akurat, edukasi politik, serta pengawasan terhadap jalannya pemilu. Ia menilai masyarakat juga harus aktif memverifikasi informasi sebelum membagikannya agar tidak menjadi bagian dari penyebaran hoaks politik.
Muhammad Irsal menambahkan bahwa sinergi antara media yang independen dan masyarakat yang kritis menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pemilu yang jujur, transparan, dan berintegritas.
Melalui kegiatan ini, KPU berharap semakin banyak generasi muda yang memahami pentingnya menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab, menolak segala bentuk politik uang, serta aktif mengawal jalannya demokrasi. Dengan meningkatnya literasi politik dan literasi digital, pemilih pemula diharapkan mampu menjadi penggerak lahirnya demokrasi Indonesia yang lebih matang dan berkualitas.



