Jakarta – Komisi I DPR RI bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar forum bertajuk “Memastikan Setiap Anak Indonesia Tumbuh Sehat dan Cerdas” pada Senin (13/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, Badan Gizi Nasional, serta pegiat literasi digital dalam memperkuat dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah strategis mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.(13/7)
Anggota Komisi I DPR RI, Rachel Maryam Sayidina, menegaskan bahwa persoalan stunting dan kekurangan gizi masih menjadi tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia. Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi anak sejak usia dini.
Program tersebut menyasar peserta didik mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Selain meningkatkan status gizi masyarakat, program ini diyakini mampu meningkatkan konsentrasi belajar, kesehatan, serta kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa mendatang.
Rachel juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung keberhasilan pelaksanaan MBG. Menurutnya, sistem digital yang terintegrasi dapat membantu memastikan penyaluran bantuan berlangsung tepat sasaran, transparan, serta akuntabel. Selain itu, media digital dinilai efektif untuk memperluas edukasi mengenai pentingnya pola makan sehat dan pencegahan stunting kepada masyarakat.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Gunalan, A.P., M.Si, menjelaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis sangat bergantung pada penerapan standar keamanan pangan yang ketat di seluruh rantai penyediaan makanan.
Menurutnya, pengawasan dimulai sejak proses penerimaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat. Seluruh tahapan dilaksanakan berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) guna menjamin kualitas, keamanan, serta kandungan gizi makanan tetap terjaga.
BGN juga memperkuat sistem pengawasan melalui pencatatan suhu penyimpanan, pengendalian risiko kontaminasi, serta mekanisme pelaporan cepat apabila ditemukan dugaan gangguan kesehatan akibat pangan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap makanan yang diterima masyarakat memenuhi standar keamanan dan layak dikonsumsi.
Dalam kesempatan itu, Gunalan mengungkapkan bahwa BGN tengah melakukan reformasi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis melalui empat pilar utama, yakni tepat sasaran, berkualitas, berkelanjutan, serta akuntabel dan efisien. Kebijakan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus memperkuat manfaatnya bagi masyarakat dan perekonomian lokal.
Selain aspek gizi, forum tersebut juga menyoroti pentingnya literasi digital sebagai bagian dari pembangunan generasi masa depan. Pegiat Literasi Digital, Didi S.E., Ak., M.Ak., CA., AWM., Cert IFR., CRMO., AWP, menyampaikan bahwa anak-anak Indonesia saat ini menghadapi tiga tantangan utama, yaitu pemenuhan gizi, kualitas pendidikan, dan penggunaan teknologi digital secara bijak.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan gawai tanpa pengawasan dapat memicu berbagai risiko, mulai dari kecanduan gadget, paparan konten negatif, cyberbullying, hingga menurunnya konsentrasi belajar. Karena itu, peran orang tua dinilai sangat penting dalam membangun pola hidup sehat sekaligus mendampingi anak memanfaatkan teknologi secara positif.
Didi juga mengapresiasi langkah pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital yang terus memperkuat perlindungan anak di ruang digital, termasuk melalui kebijakan pembatasan akses terhadap konten yang berpotensi membahayakan anak.
Menurutnya, keberhasilan mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing global memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah, DPR RI, Badan Gizi Nasional, Komdigi, dunia pendidikan, tenaga kesehatan, keluarga, hingga masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung tumbuh kembang anak Indonesia.
Melalui sinergi tersebut, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan tidak hanya mampu menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga membentuk generasi yang sehat, cerdas, serta memiliki kemampuan literasi digital yang baik sebagai bekal menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.



