Tak Sekadar Makan Gratis, MBG Disiapkan untuk Perkuat Kedaulatan Bangsa

Jakarta -Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing di tengah tantangan era disrupsi yang ditandai oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat. Melalui pemenuhan gizi yang memadai sejak dini, program ini diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia unggul yang dapat mendukung ketahanan nasional, memperkuat kedaulatan bangsa, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.(17/06)

Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi bertema “MBG: Menyiapkan Generasi Tangguh untuk Kedaulatan Bangsa dan Pertahanan Negara di Era Disrupsi” yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan legislatif, pemerintah, dan pegiat literasi digital.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, G. Budisatrio Djiwandono, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), telah mengubah berbagai aspek kehidupan dan kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Menurutnya, Indonesia memerlukan generasi yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dan berinovasi.

Ia menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia harus dibangun sejak usia dini melalui pemenuhan kebutuhan dasar, terutama gizi. Anak-anak yang memperoleh asupan gizi yang baik memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal, baik dari sisi kesehatan fisik maupun kemampuan kognitif, sehingga lebih siap menghadapi tantangan masa depan.

Budisatrio menambahkan, MBG bukan sekadar program penyediaan makanan, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia yang akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, transformasi digital, dan penguatan ketahanan nasional.

Sementara itu, Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Dr. Gunalan AP, M.Si., mengatakan bahwa MBG dirancang sebagai strategi nasional untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan manusia, termasuk stunting, ketimpangan kualitas sumber daya manusia, ancaman krisis pangan global, hingga perubahan yang dipicu oleh perkembangan teknologi.

Menurutnya, program ini mengedepankan pendekatan berkelanjutan dengan menempatkan pemenuhan gizi sebagai fondasi pembangunan manusia. Dampaknya diharapkan tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga mendukung kualitas pendidikan, produktivitas, serta daya saing nasional.

Gunalan menjelaskan bahwa pelaksanaan MBG melibatkan berbagai sektor karena persoalan gizi tidak dapat diselesaikan secara parsial. Dari sisi pendidikan, program ini diharapkan meningkatkan kualitas proses belajar. Dari sisi ekonomi, MBG mampu menggerakkan perekonomian lokal melalui keterlibatan pelaku usaha, UMKM, koperasi, petani, peternak, dan pelaku usaha pangan lainnya.

Selain itu, program ini juga dipandang memiliki kontribusi penting dalam memperkuat ketahanan pangan, ketahanan sosial, dan stabilitas nasional. Oleh karena itu, tata kelola program terus diperkuat melalui prinsip tepat sasaran, berkelanjutan, berkualitas, akuntabel, dan efisien.

Pada kesempatan yang sama, pegiat literasi digital Didi, S.E.Ak., MM.Ak., CA., menyoroti pentingnya MBG sebagai bagian dari investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ia menilai program tersebut sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai prioritas utama.

Didi mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan gizi, termasuk fenomena triple burden of malnutrition, yaitu kondisi ketika masalah kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, serta kelebihan berat badan dan obesitas terjadi secara bersamaan di masyarakat.

Menurutnya, perbaikan kualitas gizi memiliki kaitan erat dengan peningkatan kesehatan, kemampuan belajar, produktivitas, hingga daya saing bangsa. Dalam konteks era disrupsi dan persaingan global yang semakin ketat, investasi pada sektor gizi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan masa depan Indonesia.

Ia juga menekankan bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki periode bonus demografi, sehingga diperlukan investasi yang kuat di bidang kesehatan, pendidikan, dan gizi agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kemajuan bangsa.

Secara keseluruhan, para narasumber sepakat bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan langkah strategis yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Melalui peningkatan kualitas gizi masyarakat, Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat ketahanan serta kedaulatan nasional di masa depan.

Share this post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *