Jakarta – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital menggelar webinar literasi digital bertema “Akselerasi Investasi dan Perdagangan Global” pada Rabu (11/3). Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pembicara dari unsur legislatif, pemerintah, dan tokoh pemuda untuk membahas strategi menghadapi dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal, mengatakan bahwa pada era globalisasi saat ini tidak ada negara maupun individu yang mampu berkembang sendiri tanpa menjalin kerja sama dengan pihak lain. Menurut dia, keterbatasan sumber daya alam, energi, serta pangan mendorong negara-negara di dunia untuk saling berkolaborasi dalam memenuhi kebutuhan masing-masing.
Ia menilai setiap negara maupun individu perlu mengenali potensi dan keunggulan yang dimiliki agar dapat bersaing dalam ekonomi global. Konsep value advantage atau keunggulan nilai, kata dia, menjadi faktor penting dalam menciptakan daya saing, karena setiap pihak memiliki karakteristik serta potensi yang berbeda untuk dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.
Dalam konteks perdagangan internasional, potensi tersebut harus diolah menjadi nilai ekonomi yang mampu memberikan manfaat nyata. Ia juga menyoroti perubahan besar dalam sistem produksi akibat perkembangan teknologi, seperti digitalisasi dan inovasi 3D printing, yang mengubah pola produksi dari sistem massal menjadi lebih personal dan fleksibel. Perubahan ini dinilai akan memengaruhi arah investasi serta strategi perdagangan di berbagai negara.
Di Indonesia sendiri, pemerintah saat ini mendorong sejumlah kebijakan strategis, salah satunya melalui program hilirisasi sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Madya BKPM, Mirna Rizkiana, menyampaikan bahwa dunia saat ini tengah memasuki fase perubahan besar dari era VUCA menuju era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem global menjadi semakin rapuh dan sulit diprediksi.
Menurut dia, strategi adaptasi yang selama ini digunakan perlu berkembang menjadi upaya membangun ketahanan dan inovasi yang lebih kuat. Ia mencontohkan perkembangan Surabaya yang mulai muncul sebagai pusat ekonomi digital baru di Indonesia dengan peran aktif generasi muda.
Mirna juga memaparkan bahwa tren investasi global menunjukkan dinamika yang kontras. Penggalangan dana swasta mengalami perlambatan, namun investasi langsung asing atau Foreign Direct Investment (FDI) diperkirakan tetap meningkat sekitar 14 persen hingga mencapai 1,6 triliun dolar AS pada 2025.
Ia menambahkan bahwa investor global kini cenderung melirik sektor strategis seperti teknologi hijau, energi terbarukan, transportasi listrik, serta infrastruktur digital untuk memperoleh stabilitas jangka panjang. Meski demikian, berbagai risiko global tetap menjadi perhatian, termasuk ketegangan geopolitik dan tekanan inflasi yang memicu ketidakpastian pasar.
Mirna juga menyinggung dampak ketegangan geopolitik, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga emas hingga sekitar 5.278 dolar AS per ons pada Maret 2026. Selain itu, kebijakan proteksionisme dan pembatasan impor di sejumlah negara juga dinilai semakin memperumit rantai pasok global.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, pelaku usaha disarankan melakukan diversifikasi investasi serta memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) guna memprediksi pergerakan pasar dan mengantisipasi risiko keamanan siber.
Ia juga menjelaskan bahwa terjadi perubahan paradigma perdagangan dari model Just-in-Time yang berorientasi pada efisiensi menuju model Just-in-Case yang lebih menekankan pada ketahanan rantai pasok. Meskipun nilai perdagangan global mencapai sekitar 35 triliun dolar AS, pertumbuhan volumenya tercatat melambat di kisaran 2,6 persen.
Dalam kesempatan yang sama, tokoh pemuda Wawan Mataliu menilai arah kebijakan investasi Indonesia saat ini difokuskan pada transformasi ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan. Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi safe haven ekonomi global yang stabil serta menarik bagi investor.
Transformasi ekonomi tersebut diarahkan dari pola ekonomi berbasis ekspor bahan mentah menuju ekonomi yang menghasilkan nilai tambah melalui penguatan sektor manufaktur dan jasa.
Dalam tiga tahun terakhir, realisasi investasi nasional juga menunjukkan tren peningkatan. Pada 2023 realisasi investasi tercatat sekitar Rp1.418,9 triliun, meningkat menjadi Rp1.714 triliun pada 2024, dan diperkirakan mencapai sekitar Rp1.900 triliun pada 2025 dengan pertumbuhan stabil di atas 15 persen.
Dari sisi sektor, investasi di bidang mineral melalui program hilirisasi logam menyumbang sekitar 30–35 persen dari total investasi nasional. Wilayah seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara menjadi pusat pengembangan industri smelter untuk komoditas strategis seperti nikel, bauksit, dan tembaga.
Sementara itu, sektor non-mineral seperti industri makanan, transportasi, logistik, serta pergudangan juga terus berkembang karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta memberikan dampak ekonomi bagi daerah.
Melalui berbagai strategi tersebut, akselerasi investasi dan perdagangan global diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi pelaku usaha Indonesia untuk bersaing di pasar internasional.



