Jakarta – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital bersama Anggota Komisi I DPR RI H. A. Imam Sukri menggelar Forum Diskusi Publik bertema “Ketahanan Energi” pada kamis (5/3).
Diskusi tersebut menyoroti pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendorong percepatan transisi menuju energi berkelanjutan.
Anggota Komisi I DPR RI H. A. Imam Sukri mengatakan efisiensi energi menjadi langkah penting untuk mengoptimalkan kebutuhan energi di berbagai sektor. Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya energi terbarukan masih perlu ditingkatkan.
Ia menegaskan ketahanan energi harus dimulai dari perilaku individu, seperti menggunakan energi secara bijak serta mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
“Literasi energi penting untuk memperkuat pemahaman masyarakat sekaligus mendukung kedaulatan energi nasional,” ujar Imam Sukri.
Ia menambahkan, pengembangan infrastruktur energi bersih serta mitigasi terhadap potensi krisis energi harus dipersiapkan sejak dini. Dalam hal ini, DPR RI berperan melalui fungsi pengawasan, diseminasi informasi, dan dukungan regulasi agar kebijakan transisi energi dapat berjalan efektif.
Sementara itu, praktisi komunikasi digital Sadjan menilai ketahanan energi dapat diperkuat melalui tiga pilar utama, yakni kemandirian nasional, hilirisasi sumber daya, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Menurutnya, hilirisasi energi menjadi langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia.
Salah satu kebijakan yang didorong pemerintah adalah program biofuel nasional, termasuk implementasi B40 pada 2025 yang mencampurkan 40 persen biodiesel berbasis minyak sawit untuk menekan impor bahan bakar fosil. Pemerintah juga menargetkan implementasi B50 pada 2026 sebagai bagian dari upaya menuju swasembada energi.
“Efisiensi energi merupakan strategi berbiaya rendah namun berdampak besar untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional,” kata Sadjan.
Di sisi lain, tokoh pemuda Rizavan Shufi Thoriqi menilai isu ketahanan energi masih belum menjadi perhatian utama di kalangan generasi muda, khususnya di wilayah pedesaan.
Padahal, menurutnya, persoalan energi berkaitan langsung dengan masa depan. Ia mencontohkan perubahan penggunaan energi dari minyak tanah ke gas sebagai bentuk transisi energi yang telah terjadi di masyarakat.
“Energi yang digunakan saat ini tidak akan tersedia selamanya. Karena itu, kesadaran untuk menghemat energi harus mulai dibangun sejak sekarang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pemanfaatan teknologi energi terbarukan seperti panel surya sebagai alternatif sumber energi yang ramah lingkungan.
Melalui kegiatan literasi digital ini, para narasumber berharap masyarakat semakin memahami pentingnya ketahanan energi dan mulai menerapkan budaya hemat energi dalam kehidupan sehari-hari.



