Transisi Energi Berkeadilan Jadi Penentu Masa Depan Generasi Indonesia

Jakarta, 2 Maret 2026 — Transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan dinilai bukan sekadar agenda pembangunan sektor energi, tetapi menjadi penentu masa depan generasi Indonesia. Isu tersebut mengemuka dalam Forum Diskusi Publik bertema “Ketahanan Energi: Pilar Kedaulatan Nasional” yang diselenggarakan pada Senin (2/3).

Forum menghadirkan Anggota Komisi I DPR RI Dr. Desy Ratnasari, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Dr. Ir. Dadan Kusdiana, serta Dekan Fakultas Sosial & Ekonomi Universitas Teknologi Nusantara M. Zeinny sebagai narasumber.

Dalam forum tersebut disampaikan bahwa tantangan energi global yang dipicu perubahan iklim, krisis geopolitik, serta meningkatnya kebutuhan energi dunia menuntut Indonesia untuk segera mempercepat transformasi energi nasional secara berkelanjutan dan berkeadilan.

Dr. Desy Ratnasari menegaskan bahwa energi pada hakikatnya berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat dan masa depan generasi muda. Akses listrik yang stabil menentukan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, serta kesempatan ekonomi masyarakat, terutama di wilayah terpencil dan daerah tertinggal.

Meski rasio elektrifikasi nasional telah mencapai lebih dari 99 persen, ketimpangan kualitas pasokan energi masih menjadi tantangan nyata. Anak-anak di wilayah dengan listrik terbatas masih menghadapi hambatan dalam proses belajar, sementara fasilitas kesehatan di daerah terpencil sering mengalami keterbatasan operasional akibat pasokan energi yang belum stabil.

Menurut Desy, transisi energi harus memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam proses perubahan menuju energi bersih. Kebijakan energi nasional perlu mengedepankan prinsip keadilan sosial, termasuk percepatan elektrifikasi wilayah 3T serta perlindungan terhadap kelompok masyarakat rentan dalam proses transformasi energi.

Sekjen Dewan Energi Nasional, Dr. Ir. Dadan Kusdiana, menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama energi masa depan melalui pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Potensi energi surya, panas bumi, air, hingga bioenergi yang melimpah dapat menjadi fondasi pembangunan ekonomi rendah karbon sekaligus memperkuat ketahanan nasional.

Selain menjaga keberlanjutan lingkungan, transisi energi juga membuka peluang ekonomi baru. Pengembangan industri energi bersih, kendaraan listrik, serta ekosistem baterai nasional berpotensi menciptakan ratusan ribu lapangan kerja hijau bagi generasi muda Indonesia dalam dekade mendatang.

Dari perspektif akademik, M. Zeinny menekankan bahwa keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia dan inovasi nasional. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi ekonomi energi masa depan berbasis teknologi dan keberlanjutan.

Forum diskusi juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor agar transformasi energi berjalan inklusif. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dinilai harus bergerak bersama agar transisi energi tidak hanya menjadi agenda kebijakan, tetapi menjadi gerakan nasional.

Para narasumber sepakat bahwa energi yang dikelola hari ini akan menentukan daya saing Indonesia di masa depan. Ketahanan energi bukan hanya soal pasokan listrik atau bahan bakar, melainkan tentang keberlanjutan pembangunan, pemerataan kesejahteraan, serta kesiapan bangsa menghadapi perubahan global.

Sebagai penutup, Dr. Desy Ratnasari menegaskan bahwa kemandirian energi merupakan investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.

“Energi yang berkelanjutan adalah warisan bagi masa depan bangsa. Transisi energi yang berhasil adalah transisi yang mampu menghadirkan kesejahteraan sekaligus menjaga keberlanjutan bagi generasi Indonesia berikutnya,” ujarnya.

Share this post :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *