Jakarta – Ketidakpastian geopolitik global yang semakin meningkat dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan dan arus investasi dunia. Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam webinar literasi digital bertajuk “Akselerasi Investasi dan Perdagangan Global” yang diselenggarakan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital bersama Anggota Komisi I DPR RI Abdul Halim Iskandar, Kamis (5/3).
Kegiatan yang berlangsung di Intel Studio Pasar Minggu, Kompleks TNI AL, Jakarta Selatan itu menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan praktisi komunikasi digital serta akademisi. Diskusi menyoroti berbagai strategi yang perlu disiapkan Indonesia untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Anggota Komisi I DPR RI Abdul Halim Iskandar mengatakan dinamika geopolitik dunia saat ini perlu dicermati secara serius karena berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi global, termasuk kenaikan harga barang dan terganggunya arus perdagangan internasional.
Menurutnya, berbagai ketegangan yang terjadi di sejumlah kawasan dunia dapat memicu instabilitas ekonomi global yang dampaknya juga dirasakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia.
Ia menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan tersebut serta menyiapkan berbagai langkah antisipatif. Presiden Prabowo Subianto, kata dia, bahkan telah mengundang sejumlah tokoh untuk berdiskusi guna memperoleh masukan terkait strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Perkembangan geopolitik global perlu kita pahami bersama karena dampaknya bisa langsung dirasakan terhadap kondisi ekonomi, termasuk harga barang dan aktivitas perdagangan,” ujarnya.
Sementara itu, praktisi komunikasi digital Usman Kansong menyampaikan bahwa perubahan geopolitik dan geoekonomi global menuntut setiap negara bergerak lebih cepat dalam memperkuat investasi sekaligus memperluas perdagangan internasional.
Ia menjelaskan pemerintah menargetkan percepatan investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Indonesia menargetkan realisasi investasi sebesar Rp13.032 triliun pada periode 2025–2029 dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 15,7 persen per tahun.
Target tersebut diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai 8 persen pada 2029.
Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah menjalankan berbagai strategi, antara lain memperkuat program hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menyederhanakan proses perizinan melalui sistem digital, serta memperkuat peran Satuan Tugas (Satgas) Investasi dalam mengawal proses investasi hingga terealisasi.
Selain itu, pemerintah juga memberikan berbagai insentif bagi proyek strategis nasional, termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) serta pengembangan kawasan industri seperti Kawasan Industri Batang.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa dinamika perdagangan global tetap menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari meningkatnya kebijakan proteksionisme hingga konflik antarnegara yang berpotensi mengganggu rantai pasok dunia.
“Gangguan rantai pasok dapat meningkatkan biaya logistik sekaligus menciptakan ketidakpastian pasar. Karena itu, Indonesia perlu memperkuat strategi diversifikasi pasar ekspor agar tidak bergantung pada satu kawasan,” kata Usman.
Pandangan senada disampaikan akademisi Dewi Fitrotus Sa’diyah. Ia menilai dunia saat ini tengah memasuki fase baru yang lebih kompleks, yang ia sebut sebagai pergeseran dari era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) menuju era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible).
Dalam situasi tersebut, pelaku ekonomi tidak hanya dituntut adaptif, tetapi juga harus mampu membangun sistem ekonomi yang lebih tangguh dan inovatif.
Meski diwarnai ketidakpastian global, ia menyebut investasi internasional masih menunjukkan tren optimistis. Proyeksi Foreign Direct Investment (FDI) global diperkirakan meningkat sekitar 14 persen hingga mencapai USD 1,6 triliun pada 2025, terutama di sektor teknologi hijau, digitalisasi, dan energi terbarukan.
Meski demikian, ketegangan geopolitik serta kebijakan proteksionisme tetap menjadi tantangan besar bagi stabilitas perdagangan global.
Di sisi lain, pola perdagangan global juga mulai mengalami perubahan. Model Just-in-Time yang sebelumnya menekankan efisiensi kini mulai bergeser menuju pendekatan Just-in-Case yang lebih mengutamakan keamanan pasokan serta ketersediaan cadangan logistik.
Menurut Dewi, percepatan digitalisasi menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan tersebut. Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), Blockchain, dan Internet of Things (IoT) dinilai mampu meningkatkan efisiensi logistik sekaligus memperkuat transparansi dalam perdagangan internasional.
Selain itu, kehadiran platform perdagangan digital juga membuka peluang lebih luas bagi usaha kecil dan menengah (UKM) untuk menjangkau pasar global.
Melalui kegiatan literasi digital ini, para narasumber berharap masyarakat dapat memahami dinamika investasi dan perdagangan global sekaligus meningkatkan kesiapan Indonesia dalam menghadapi perubahan ekonomi dunia yang semakin kompleks.



